Bukti tersebut muncul setelah sebuah data pengamatan menunjukkan adanya pergeseran permukaan Pluto yang cukup signifikan. Setelah diteliti, ilmuwan menduga, fenomena tersebut disebabkan oleh bulan milik Pluto yaitu Charon.
Menurut Telegraph, ilmuwan NASA memperkirakan gaya gravitasi dari Charon telah menyebabkan gelombang pasang surut di Pluto, sama seperti pengaruh gravitasi Bulan terhadap Bumi. Temuan tersebut merupakan hasil penelitian dari obeservasi yang telah dilakukan oleh wahana antariksa New Horizon tahun lalu.
New Horizon kini telah berada 587 juta kilometer dari Pluto untuk melakukan observasi di luar galaksi yang akan dimulai tahun 2019.
New Horizon kini telah berada 587 juta kilometer dari Pluto untuk melakukan observasi di luar galaksi yang akan dimulai tahun 2019.
Hasil penelitian ilmuwan NASA kali ini baru saja dipublikasikan. Penelitian tersebut berfokus pada area seluas 965 kilometer yang berada di bagian kiri dari kawah berbentuk hati yang ada di Pluto. Area ini dinamakan Sputnik Planitia. Nama tersebut diambil dari nama salah satu satelit legendaris Rusia yang diluncurkan pada tahun 1957.
Pengamatan di Sputnik Planitia menunjukkan adanya pergerakan massal di permukaan Pluto. Pergerakan tersebut bahkan diperkirakan bisa menyebabkan munculnya lubang pada permukaan Pluto. Setelah diteliti, Sputnik Planitia ternyata merupakan wilayah yang sejajar dengan arus pasang surut yang ada di Pluto.
Pengamatan di Sputnik Planitia menunjukkan adanya pergerakan massal di permukaan Pluto. Pergerakan tersebut bahkan diperkirakan bisa menyebabkan munculnya lubang pada permukaan Pluto. Setelah diteliti, Sputnik Planitia ternyata merupakan wilayah yang sejajar dengan arus pasang surut yang ada di Pluto.
Bukti tersebut membuat peneliti menarik kesimpulan bahwa Pluto memiliki lapisan cairan di bawah permukaannya. Lapisan cairan yang diduga sebagian besar berupa nitrogen tersebut membuat permukaan Pluto mengapung dan saat gelombang pasang surut tiba, permukaan tersebut mengalami pergeseran.